PROSES PENGALAMAN ESTETIK MELALUI PENDEKATAN

PROSES PENGALAMAN ESTETIK MELALUI PENDEKATAN

TEORI SENI

Karya grafis

Tisna sanjaya , “lengser keprabon”.1997

Pendahuluan

Proses pengalaman estetik pada bagian ini diperoleh dengan melakukan pendekatan teori seni yang tetap memperhatikan latar belakang pembuatan karya baik secara psikologi seniman maupun sosiologi lingkungan. Pemasukan latar belakang pembuatan karya pada metode tidak lain adalah untuk merumuskan konsep berkesenian yang digunakan olah seniman pada karyanya.

Sehingga untuk mendapatkan pengalaman estetik dengan melalui metode ini setidaknya perlu mengkaji suasana social yang terjadi selama karya ini berlangsung, karakteristik berkesenian seniman, kondisi psikologis seniman, kondisi lingkungan baik politik,social, budaya, dan ekonomi. Untuk mencapai itu semua perlu dilakukan survey dan wawancara privat dengan Sang Seniman dan keluarga serta teman karib.

Namun karena keterbatasan waktu, keberanian, dan pengalaman maka langkah-langkah tersebut direduksi dengan menjadikannya tanpa wawancara dengan seniman beserta teman karibnya untuk memperoleh data terkait karakter seniman, tapi hanya dengan kajian sejarah pada tahun dimana karya itu dibuat, dan kajian pustaka yang berhubungan dengan riwayat hidup, dan pengalaman berkarya.

Proses Pemerolehan Pengalaman Estetik Dengan Pendekatan Teori Seni

Pendekatan teori seni disebut juga dengan istilah pendekatan filsafat seni. pertama melihat karya seni grafis karya Tisna Sanjaya ini saya tidak dapat langsung mengapresiasi seberapa estetikkah karya ini, pasalnya karya tersebut dominan hitam yang jika diamati secara sepintas tidak serta merta muncul kesan wah…! Dari dalam diri. Namun setelah membaca judulnya “Lengser Keprabon”, maka otak kanan langsung mengarah pada masa lengsernya jabatan seorang pemimpin, awalnya tersirat nama mantan presiden republic Indonesia Bapak H.M.Soeharto adalah yang lengser, namun setelah diamati lagi ternyata di Dalam karya tepatnya pada posisi atas terdapat tulisan”dirgahayu ke-35”,yang berarti pada tahun 1970. dalam catatan sejarah tahun tersebut adalah tahun dimana Bapak Ir.Soekarno menyerahkan jabatan sebagai presiden kepada Bapak H.M.Soeharto.

berawal dari sinilah ketertarikan terhadap karya mulai muncul dan mengalir begitu saja. Pandangan tentang Nirmana berbunga dengan indahnya. Nampak di dalam karya tiga pembagian kelompok, kelompok teratas adalah kelompok yang berkuasa, hal ini bisa dilihat dari perawakan tokoh sentralnya yang mengenakan mahkota raja, kelompok kedua adalah kelompok yang berada di tengah, pada kelompok ini terdapat tokoh sentral yang memegang semacam daun berbentuk gunungan pada tangan kanannya, sedang tangan kirinya terlihat meremas-remas tubuh manusia yang diperlihatkan pula beberapa korbannya.

Kelompok ketiga adalah kelompok yang duduk dan berdiri disekitar tokoh sentral pada kelompok tengah. Terlihat perawakan tokoh-tokoh itu terkesan lugu, patuh dan tidak menunjukkan raut melawan atau geram malihat peremas-remasan tubuh manusia.

Di posisi tengah terdapat tulisan yang dibuat menyerupai spanduk yang bertuliskan sebagaimana judul karya grafis ini “Lengser Keprabon Mendeg Pendithe….”.

Warna hitam yang awalnya tak menarik sekarang semakin tampak menarik,pasalnya jika dihubungkan dengan peristiwa yang terjadi pada tahun tersebut, maka hubungan yang muncul adalah keharmonisan, maksudnya pada masa itu bisalah dikatakan sebagai kegelapan, masa runtuhunya orde lama, masa munculnya orde baru, dimana selama masa orde baru berjalan hingga tahun dimana karya grafis ini dibuat ternyata menunjukkan kecacatan, kepincangan, dan kelicikan yang benar-benar tidak terlihat dan ter-uploade ke khalayak umum, inilah yang dimaksud kegelapan, sedang kegelapan itu hitam.

Melihat biografi tisna sanjaya yang ditulis di http://www.korantempo.com/news/2003/8/7/Budaya/1.html dikatakan

Dalam karyanya, Tisna banyak mengungkap soal antikekerasan, Orde Baru, dan militerisme. Baginya, militerisme bukanlah merujuk langsung pada militer semata. “Tapi juga dimiliki sipil, kita. Ketika kita menyelesaikan masalah dengan kekerasan, tanpa dialog, langsung perang, seperti yang biasa dilakukan oleh militer, di situlah kita melakukan militerisme,” kata Tisna.

Sudah sepantasnyalah jika dalam karya tisna sanjaya yang satu ini menyinggung unsure-unsur politik.

Begitulah pengalaman estetik penulis yang menggunakan metode pendekatan teori seni, yang mengedepankan penempatan figure atau tokoh dan sedikit memberikan kajian warna yang tetap memperhatikan sisi historical dari karya. Berikut adalah kutipan biografi Tisna Sanjaya dari artikel Kompas pada Minggu, 23 Maret 2008, dan http://www.korantempo.com/news/2003/8/7/Budaya/1.html

Nama: Tisna Sanjaya

Lahir: Bandung, 28 Januari 1958

Pendidikan: – IKIP Bandung, Seni Rupa (1978-1979) – ITB Bandung, Studio Grafis (1979-1986) – Diplom Freie Kunsthochschule fuer Bildende Kuenste – Braunschweig, Germany (1991-1994) – Meisterschueler by Prof Karl Christ Schulz (DAAD fellowship) – HBK Braunschweig Germany (1997-1998)

Pekerjaan: seniman, pengajar di ITB

Pameran tunggal: 14 kali sejak 1982, di antaranya “Matahari Terbenam di Cigondewah” berupa karya riset dan karya bersama warga setempat (Gedung YPK Bandung 2007), Pameran Etsa, Lukisan, dan Instalasi (Bentara Budaya Jakarta, 2004), Pameran “Special Prayer for the Death” (Galeri Lontar Jakarta, 2003)

Pameran bersama: 45 kali sejak 1985, di antaranya Biennale Jogja (2008), Biennale Gwangju (2004), Biennale Venesia (2003), Pameran “AWAS! Recent Art From Indonesia” (Australia, Jepang, Belanda, Jerman, Indonesia) (1999-2002)

Performance art: 21 kali sejak 1983

Penghargaan: di antaranya lukisan terbaik pada Philip Morris Art Award 1997

Istri: Molly Agustina Sukantawijaya, guru Sastra Indonesia SMU Taruna Bakti Bandung

Anak: Muhammad Zico Albaiquni (20), Etsa Nur Meisyara (17), Jiwa Saraswati (14), Daffa Ananta (4)

Lingkungan Seni Sejak Kecil
Bakat seni Tisna terlihat sejak kecil. Ia sering menggambar di tembok-tembok rumah. Kendati orangtuanya pedagang ayam, mereka sangat mendukung bakat seninya. Ini karena lingkungan rumahnya tak jauh dari kesenian. “Depan rumah ada Popo Iskandar dan di rumah ada Pak Lukman Hakim, seorang pengajar seni rupa. Saya bahkan sering bermain dengan Wawan, putranya Pak Popo,” kata Tisna.
Waktu SMP, dia juara menggambar di sebuah lomba yang diadakan oleh Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN). Meski juara satu, nilai menggambar di rapornya mendapat lima. Ini karena ada temannya yang menukar dengan paksa gambarnya ketika ujian untuk dinilai, sehingga gambar jelek temannya itulah yang diterimanya.
Masa-masa sekolah banyak dihabiskannya di Jalan Braga, memelototi lukisan-lukisan Chan Tanjung, Rusli, dan karya-karya Moi Indie lainnya. Bahkan lukisannya yang memenangkan lomba BKKBN meniru gaya Rusli.
Lantas ia memilih memasuki Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan jurusan seni rupa selama dua tahun dan dilanjutkannya ke ITB selama 1979-1986. Di ITB inilah ia berkenalan dengan dunia happening art dari kelas eksperimen kreatif yang diajarkan G. Sidharta. Ia semakin tertarik ketika melihat seringnya mahasiswa dari jurusan patung melakukan happening art. Ketertarikannya ini juga dialami Arahmaiani, teman sekampusnya yang kini lebih dikenal sebagai seniman performance art.
Setelah menyelesaikan S2-nya di Jerman, ia meneruskan program lanjutan untuk S3 di tempat yang sama pada 1997-1998. Kini salah satu adiknya, Dede Wahyudin, yang juga menempuh pendidikan yang sama, baru saja lulus ITB dan mendapat beasiswa ke Jerman. Salah satu adiknya yang lain yang juga berkecimpung di dunia seni adalah Iman Sholeh, seorang aktor dan dramawan yang kini mengajar teater di Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Bandung.

Militerisme dan Kekerasan
Dalam karyanya, Tisna banyak mengungkap soal antikekerasan, Orde Baru, dan militerisme. Baginya, militerisme bukanlah merujuk langsung pada militer semata. “Tapi juga dimiliki sipil, kita. Ketika kita menyelesaikan masalah dengan kekerasan, tanpa dialog, langsung perang, seperti yang biasa dilakukan oleh militer, di situlah kita melakukan militerisme,” kata Tisna.
Bagi seniman berambut gondrong ini, ia tak memiliki pengalaman pribadi yang membuatnya kesal kepada unsur-unsur tersebut. Ia mengalaminya secara tak langsung. Rumah orangtuanya yang menjadi tempat kos-kosan mahasiswa pernah digrebek aparat ketika banyak menggelar diskusi di masa Orde Baru. Adiknya, Iman Sholeh, juga pernah diangkut.
Sewaktu SMP, ia mendapati kakeknya meringkuk ketakutan ketika seorang aparat mendatangi rumah kakeknya yang sukses menjadi pedagang tembakau itu. Ketika itu kakeknya meminjam uang kepada seorang aparat TNI dan hartanya ludes dililit hutang.
Selebihnya, ia lebih mengangkat masalah-masalah sosial kontekstual yang mengganggunya. Seperti Orde Baru yang dirasanya hanya berganti baju saja di masa Reformasi ini. Untuk masalah-masalah “besar” itu, Tisna mengungkapnya dalam media lukisan atau instalasi. Tapi untuk persoalan personal, kegundahan, dan kegelisahannya, ia lebih memilih media grafis, atau drawing. Ciri gambarnya biasanya dipenuhi obyek rapat yang dilatarbelakangi kehidupannya yang dikelilingi banyak saudara dan tetangga.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: