analisis karya cetak dalam” pesta pencuri”-Tisna Sanjaya

Pendahuluan
Karya di atas adalah salah satu contoh karya grafis yang menggunakan teknik cetak dalam atau intaglio print dengan pemanfaatan teknik etsa,atau goresan. Sebelum meninjau lebih jauh terkait kekomplekan karya grafis tersebut alangkah baiknya jika dijelaskan terlebih dahulu beberapa hal yang berhubungan dengan teknik cetak dalam atau intaglio print.
Cetak dalam adalah cetak atau seni grafis yang menggunakan acuan bagian negatif pada cetak tinggi, atau secara singkat cetak dalam merupakan kebalikan dari cetak tinggi. Disebut cetak dalam karena bagian yang dijadikan sebagai penghantar tinta atau warna adalah bagian yang dalam atau yang tenggelam atau memparit dari permukaan dasar acuan.
Adapun menurut versi Wikipedia,Intaglio atau cetak dalam adalah teknik cetak dengan prinsip penggoresan imaji ke atas permukaan. Biasanya pelat tembaga atau seng digunakan sebagai bahan acuan utama, dan permukaan cetak dibentuk dengan teknik etsa, engraving, drypoint, atau mezzotint. Penggunaan pelat ini dengan menyelimuti permukaan acuan dengan tinta, kemudian tinta di permukaan yang tinggi dihapus dengan kain tarlatan atau kertas koran sehingga yang tertinggal hanyalah tinta di bagian rendah. Kertas cetak kemudian ditekan ke atas pelat intaglio sehingga tinta berpindah.(http://id.wikipedia.org/wiki/Etsa)
Etsa bisa disebut salah satu proses intaglio. Berbeda dengan engraving, di dalam etsa pembentukan bagian rendah dilakukan dengan korosi senyawa asam sementara engraving menggunakan alat-alat mekanik untuk mendapatkan efek yang sama.
Intaglio Engraving, sebagai metode cetak sudah dikembangkan sejak pertengahan abad 15, kemungkinan besar di Jerman. Contohnya bisa ditemukan di hiasan senjata, baju zirah, alat musik, dan benda-benda religius.
Di dalam seni grafis, penggunaan engraving berbahan tembaga pertama kali diketahui digunakan oleh Martin Schongauer. Sementara Albrecht Dürer adalah salah satu seniman intaglio terkenal. Pada abad 17 dan 18 teknik ini mencapai masa keemasannya dan kadang bahkan dipakai untuk mereproduksi gambar-gambar potret. Banyak pula ditemui perangko-perangko bernilai tinggi yang dicetak dengan teknik ini.Teknik intaglio banyak digunakan untuk pencetakan uang kertas, surat-surat berharga, dan paspor
Peralatan yang digunakan dalam cetak dalam tergantung dari cara atau metode cetak yang dipilih. Secara umum Ada 2 (dua) cara dalam mewujudkan karya grafis teknik cetak dalam yaitu dengan cara cetak tangan dan cara kimiawi. Adapun yang akan diurai dalam paper tertulis ini hanya sebatas cara tangan yang menggunakan media jarum atau gores, hal ini didasarkan atas teknik yang digunakan dalam proses pembuatan karya seni grafis Tisna Sanjaya tersebut.
Pemanfaatan teknik gores dengan tangan hanya menggunakan satu alat pokok yaitu alat toreh,alat toreh ini tergantung bahan yang digunakan, jika logam maka alat torehnya adalah logam juga yang runcing tentunya, sedang jika dari bahan mika maka alat torehnya adalah jarum dan sejenisnya. Adapun nantinya ada penambahan alat yang digunakan itu adalah semata-mata kreatifitas seniman sendiri.
Bahan pembuatan karya seni grafis teknik cetak dalam yang umum dipakai adalah mika dan lempengan tembaga(logam),seng,serta bahan sejenisnya. Perlu diperhatiakn bahwa pemakaian bahan akan mempengaruhi teknik yang dipakai dan karakteristik karya itu sendiri..
Pembuatan acuan teknik cetak dalam dikerjakan dengan jalan membuat goresan-goresan yang membuat alur atau lubang parit -parit kecil pada permukaan acuan yang dipergunakan.pembuatan alur-alur yang berupa rencana gambar atau tulisan di atas permukaan acuan dengan cara menggoreskan pensil baja yang bersegi sehingga akan mendapatkan bekas goresan yang menyerupai huruf v (dilihat dari pandangan samping).
Goresan yang dihasilkan antara bagian permulaan dan akhir biasanya tidak sama,mula-mula dalam lama kelamaan semakin menyempit atau dangkal. Hal ini dikarenakan oleh cara memulai dan mengakhiri pembuatan goresan tekanannya berbeda. Sifat goresan yang demikian acapkali dijumpai pada cara pembuatan dengan menggunakan tangan langsung. Oleh karena itulah penguasaan teknik terkait pemberian tekanan dalam membuat goresan yang konstan perlu dikuasai oelah para seniman yang hendak memilih teknik cetak dalam untuk menghasilkan karya grafis.
Proses pencetakan dilakukan dengan menggosokkan atau memasukkan tinta atau warna kedalam bekas bekas goresan sehingga alur – alur atau garis -garis tersebut terisi oleh tinta cetak. Sedang tinta yang berada dipermukaan bidang acuan yang tidak diperlukan dapat dibersihkan atau dihilangkan.
Kemudian selembar kertas yang telah dilembabkan diletakkan pada permukaan acuan dan dilandasi dengan kertas atau bahan sejenis untuk menghindari kerusakan pada kertas cetak, kemudian digosok dengan tangan atau alat press secara merata . Tinta pada parit-parit atau alur-alur di atas acuan tersebut akan terhisap atau terserap oleh kertas lembab. Dengan demikian gambar pada permukaan acuan telah berpindah pada sebidang kertas yang dicetak.

Analisis
setelah membaca sedikit penjelasan terkait cetak dalam di atas diharapkan dalam mengikuti bahasan tentang karya seni grafis buatan Tisna Sanjaya tersebut dapat dipahami dan diimplikasikan dengan baik.
Metode analisis karya yang digunakan disini adalah metode penelitian Feldman, yang dimana penekanan utamanya adalah pada kritik formalisitik. Adapun pembagian tahap-tahapnya dibagi dalam 4 tahap yaitu tahp diskripsi, analisis formal, interpretasi dan evaluasi.
Berikut akan dipaparkan satu persatu tahapan tersebut

1.Diskripsi
Pada bagian ini akan diutarakan terkait hal-hal yang bersifat umum yang terlihat oleh indra terutama mata,seperti peletakan warna, garis, bidang, titik, dan seterusnya
Karya Tisna Sanjaya berjudul Pesta Pencuri ini memanfaatkan unsur peruangan, dimana dalam karya tersebut dibuat dalam lima bagian ruang. Ruang pertama bisa dikatakan ruang yang paling dekat dengan pengamat, ruang kedua ruang yang berada pada sisi kanan pengamat, ruang ketiga ruang yang berda pada sisi kiri pengamat, ruang keempat adalah ruang yang berada jauh pada bagian titik lenyap, dan ruang kelima adalah ruang tengah atau ruang yang berada pada posisi sentral pada karya.
pada ruang pertama nampak beberapa figur yang ditampilkan dengan karakter kepala lonjong, mata membelalak besar, dan terdapat antena menjulur dari kepalanya ada yang satu antena ada yang dua, ada yang dari ubun-ubun dan ada yang dari hidung. Semua figur yang berada pada ruang ini berpose menghadap pengamat atau tidak membelakangi pengamat. Warna yang digunakan adalah warna semi monokromatik, atau hanya satu warna, yaitu warna ungu, meskipun demikian ada warna tambahan yang digunakan yaitu warna hitam.
Pada ruang kedua dibuat menyeruai panggung petunjukan,nampak disana sesosok figur dengan perwakan mulut melebar,baju bergaris vertikal, matanya bulat, dan rambut yang ditata berdiri tegak. Lagi-lagi figur ini mengahadap ke pengamat atau tidak membelakangi pengamat. Selain figur ini juga terdapat sebuah meja yang di atasnya terdapat semacam botol ( tidak jelas). Figur ini berpose tersenyum dengan duduk di samping meja yang di tutup dengan kain kotak-kotak hitam dan putih.
Pada ruang ketiga dibuat dengan bertingkat atau berlantai dua, di lantai pertama tidak ada pilar yang membagi ruang, sedang pada lantai 2 terdapat 3 buah pilar yang membagi ruang. Pada lantai pertama nampak karakter figur yang serupa dengan karakter pada ruang pertama hanya saja pada ruang ini figur-figurnya menghadap ke posisi pusat atau pada ruang tengah. Pada lantai dua karakter yang digunakan hampir sama dengan karakter pada lantai satu hanya saja pada bagian mata dan giginya lebih diperjelas,begitu pula dengan pose atau gayanya.
Pada ruang keempat terdapat dua figur pokok yaitu satu figur terletak pada posisi depan satu lagi pada posisi belakang. Figur satu berpose seakan-akan menunggangi figur kedua, figur pertama memilki kemiripan bentuk dengan kucing dan singa, figur dua memiliki kecenderungan seperti kucing pula hanya saja tubuhnya didistorsi memanjang dengan telinga yang diperpanjang. Pada bagian background terdapat tiga bidang yang dibuat seakan sama ukurannya dengan warna cerah( putih), pada bidang yang paling kiri terdapat gambar bintang.
Pada ruang kelima nampak beberaa tokoh atau figur yang beraneka ragam baik dari segi bentuk, ukuran, maupun warna dan pose masing-masing. Di ruang ini terpajang sebuah meja berukuran besar yang dikelilingi oleh 4 tokoh yang memiliki perawakan tubuh besar.
Secara keseluruhan ruang warna yang digunakan Tisna dalam karya ini adalah warna hitam dan ungu, adapun warna putih dianggap sebagai warna dasar.

2.Analisis Formal
Pada bagian ini akan diutarakan secara lebih dalam terkait unsur visual yang ditonjolkan dalam “ pesta pencuri”.
Pembagian ruang dengan sistem sekat antar ruang memberikan kesan lebih tertutup bahwa ada pemisahan fungsi dan peran dari masing –masing ruang berbeda. Perwujudan karakter yang cenderung sederhana dengan warna apa adanya mengkaburkan esensi warna dalam kajian pesan melalui warna, sehingga dalam karya ini seakan warna hanya digunakan sebagai unsur komplementer saja disamping karakter dan pembagian ruang sebagai unsur pokoknya.
Garis-garis dibuat dengan pola ritmis atau tidak geometris tulen,artinya garis-garis yang digunakan dalam pembatasan bidang lebih sebagai garis yang bersifat dinamis yaitu garis yang tak terbatasi oleh aturan kelurusan dan ketegakan. Meski demikian perspektif masih dipegang sebagai kunci utama pembuatan pembagian ruang.
Bidang bidang datar sebagai pemberi efek 2D tidak banyak dimunculkan, sebaliknya kesan keruangan yang berkesan 3D lebih mendominasi karya ini.
Peletakan komponen sesuai bidang lebih memberatkan ruang kelima atau ruang tengah, hal ini disebabkan begitu banyaknya tokoh yang berjubel yang mendinamiskan suasana sehingga pada ruangan tengah nampak sekali adanya aktivitas kehidupan dari pada ruang-ruang yang lain. Hal ini sangat berbeda halnya dengan kondisi pada ruang kedua yang hanya di isi oleh seorang tokoh saja, mekipun demikian pada ruang ini disentuh dengan sedikit empasis berupa cahaya pada bagian belakang dan meja bertutup kain kotak-kotak.
Selain itu terdapat peletakan figur-figur yang seakan disesuaikan dengan peran yang diemban, seperti peletakan figur mirip kucing-singa pada ruang keempat yang notobene sebagai ruang khusus yang mengedepankan unsur kekuasaannya.
Intensitas cahaya tidak begitu mendapat perhatian pada karya ini, namun meski demikian halnya kesan gelap yang muncul pada karya ini memberikan nuansa yang lebih relevan dan harmonis dengan karakter yang dibawakan oleh figur-figur yang mendukung dalam karya tersebut.
Pembobotan keruangan dapat dimenejemeni secara lihai oleh Tisna, kekurangan figur pada ruang kedua diganti dengan efek ruang yang lebih indah dari pada ruangan yang sesak dengan tokoh, sehingga pembobotan visualisasi karya masih tetap seimbang.

3.Interpretasi
Pada tahap ini akan diutarakan terkait olah iintelektual dari karya “Pesta Pencuri” yang berusaha menggali beberapa kemungkinan maksud yang mungkin dari karya ini.
Ruang adalah suatu bentuk pembidangan dari suatu hal yang seharusnya lebih luas dan umum. Dengan adanya ruang, kebebasan dalam berbagai hal yang kekuasaannya berada diluar ruang akan tidak dapat dicapai, kalaupun itu dapat maka sifatnya tidak mutlak. Tetapi manusia tidak akan kalah akal, yang mana bisa akal baik maupun akal buruk, sebagaimana sebuah meja yang ditutupi oleh taplak warna hitam dan putih hitam bersekat dengan putih dan sebaliknya, tetapi keduanya masih ada bahkan sama kuatnya. Jika tidak bisa mengambil kekuasaan untuk menggapai kebebasan maka biarkanlah kebebasan itu sendiri yang datang untuk memberi kekuasaan.
Sebagaimana dijelaskan di atas bahwa ruang adalah wujud pengekangan kebebasan, maka pada karya ini ruang adalah kesebalikannya yaitu ruang adalah pencipta kebebasan. Ruang ini bisa diidentikan dengan kondisi ruang yang ada dalam jajaran Dewan pusat sana, yang dibagi dalam berbagai fraksi, masing –masing fraksi memiliki kewenagan sendiri-sendiri meskipun demikian kadang mereka bisa overlapping dengan dalih kasus A,B,C dan seterusnya…..
Sehingga ruang bukanlah alasan atau alat untuk pemberian batasan-batasan untuk menghindari kebebasan. Begitu halnya dengan peraturan, peraturan itu ditujukan untuk memberikan batasan-batasan tertentu pada bidang tertentu pula yang tidak menutup kemungkinan peraturan itu dilanggar dengan berbagai kepentingan dan alsan di dalamnya baik kepentingan yang sifatnya individu maupun kepentingan yang sifatnya umum tapi ujungnya individu.
Sekuat apapun peraturan sehebat apapun aparat keamanan yang namanya peraturan adalah peraturan yang tidak punya tangan sendiri yang harus digerakkan oleh manusia sedang manusia sendiri adalah pembuatnya, maka tidak salahlah jika peraturan itu dilanggar sebagaimana sekat-sekat dalam lukisan Tisna tersebut masih menggelora kesan bejatnya dengan judul fenomenalnya “pesta Pencuri” yang dicuri apa? Bagaimana caranya? Milik siapa? Padahal dalam ruang yang bersekat. Andaikata pesta kenapa meski ada sekat, pesta kan identik dengan senang-senang, kalau bersekat apakah senang namanya. Jawabannya adalah senang tak kenal sekat pesta tak kenal tempat, pencurian tak kenal sanak dekat, korupsi tak kenal uang rakyat semuanya bisa dibabat.

4.Evaluasi
Berdasarkan interpretasi yang telah dilakukan di atas Tisna memberikan nuansa baru dalam paradigma norma, bahwa norma itu tidak bisa mutlak dijalankan dengan benar 100% oleh semua elemennya. Oleh karenanya Tisna menguraikannya dalam dunia yang paling mudah diamati, karena merupakan fokus masyarakat, yaitu pemerintahan.
Karya yang sungguh sosial.

Comments
One Response to “analisis karya cetak dalam” pesta pencuri”-Tisna Sanjaya”
  1. Gatot Kitranggono mengatakan:

    Uraian sederhana yang menakjubkan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: